Senin, Oktober 27, 2008

Rusmi Ingin Pulang

Minggu, 26 Oktober 2008
saat 04 : 50

Judul : Rusmi Ingin Pulang
Penulis : Ahmad Tohari
Penerbit : Matahari, Jogja
Cetakan : Kedua 2004
Tebal buku : v + 106





Pertama yang menarik waktu pertama aku membeli buku ini adalah nama seorang penulisnya yang tidak asing di kepalaku. Ya, Ahmad Tohari, bagiku maestro tulisan-tulisan khas dengan latar pedesaan dan kehidupan yang sederhana. Tentu saja buku kumpulan cerpen ini mewakili segala kemampuannya. Ditulis pada cetakan pertama di tahun 2004. Berisi 5 buah cerita pendek yang kesemuanya memuat tentang perempuan. Judul buku dijadikan punggawa pertama untuk menghadapi penikmat buku ini. Rusmi Ingin Pulang menceritakan tentang wanita janda yang pergi meninggalkan desa kelahirannya karena risih hidup menjanda. Kemudian dihari ia ingin pulang kembali kasak kusuk kehidupan jandanya terusik oleh pembicaraan di tengah kampung. Rusmi membuktikan dengan dirinya dilamar oleh orang baik-baik sehingga rusaklah semua buruk sangka yang ada ditengah masyarakat.
Nyanyian Malam merupakan cerpen kedua yang disajikan Ahmad Tohari dalam buku ini. Ahmad Tohari dengan piawai menceritakan sisi lain kehidupan wanita dengan empati yang tinggi kepada teman sendiri yang janda karena dicerai suaminya kemudian dituduh dan memang menjadi wanita tuna susila.
Kemudian cerpen ketiga adalah Si Minem Beranak Bayi. Bercerita tentang marginalitas perempuan yang menjadi objek dari kemiskinan. Anak-anak yang usianya masih belasanpun harus dikawinkan oleh orang tuanya. Minem, dalam kisah ini adalah bocah yang menjadi istri dari Kasdu yang melahirkan pada saat umurnya masih 14 tahun. Proses kelahiran yang begitu memelaskan, karena kondisi ekonomi dan kurangnya pasokan gizi si ibu menjadikan bayinya lahir begitu kecil.
Cerpen keempat adalah Blokeng. Judulnya aneh memang. Ternyata ini nama orang. Manusia yang dipinggirkan dalam masyarakat karena dianggap gila. Tapi kejadian luar biasa terjadi setelah Blokeng melahirkan anak tanpa ayah. Dan semua lelaki enggan mengaku menjadi ayah dari anak itu. Ahmad Tohari begitu pandai menceritakan kisah ini. Bagi saya berhasil walaupun hanya berjumlah beberapa paragraf.
Cerpen terakhir berjudul Bulan Kuning Sudah Tenggelam. Cerpen ini begitu panjang, kalau menurut ku mending dikategorikan ke mini novel. Walau begitu menjadi khas seorang Ahmad Tohari bahwa ceritanya begitu tidak membosankan. Cerita tentang cinta seorang wanita kepada suaminya. Baik sangka adalah nilai moral dalam cerita ini. Sungguh, begitu banyak yang baik, sehingga belum bisa ku tulis semua.
Secara keseluruhan, Kumpulan Cerpen milik Ahmad Tohari begitu berbeda. Mampu membuka pikiran kita tentang termaginalnya kehidupan wanita walau sesederhana apapun permasalahan yang ada.
Ahmad Tohari, dahsyat!

0 kata-kata: